Sedang mencari tempat menginap yang murah, selesa dan jauh dari hiruk pikuk kota?Homestay kami adalah pilihan terbaik untuk anda yang mementingkan keselesaan tanpa perlu berbelanja besar.
Dengan suasana yang tenang dan kemudahan seperti di rumah sendiri, homestay ini sangat sesuai untuk keluarga, pasangan, dan solo traveller.
xx
Melihat matahari terbenam
Melihat matahari terbenam di sini adalah satu pengalaman yang sukar dilupakan. Dari JSHomestay, pemandangan Banjaran Keledang menjadi pentas semula jadi apabila matahari perlahan-lahan menurunkan tirainya.
Saat matahari semakin hilang di balik bukit, langit berubah warna daripada biru ke ungu, kemudian ke merah lembayung. Siluet Banjaran Keledang yang teguh kelihatan semakin indah, seolah-olah lukisan hidup yang sentiasa berubah setiap detik. Angin petang yang sepoi-sepoi dan suasana sunyi menambahkan rasa damai.
Menikmati matahari terbenam dari homestay ini bukan sekadar melihat keindahan alam, tetapi merasai ketenangan yang menyentuh hati. Ia menjadi detik istimewa untuk pasangan, keluarga mahupun sesiapa sahaja yang ingin melarikan diri seketika daripada kesibukan harian.
Panggilan Azan
Saat azan mulai mengalun, dunia seakan menarik nafas panjang. Udara terasa lebih lembut. Di celah-celah suara kenderaan, angin, dan langkah manusia, suara itu hadir—jernih, penuh makna—mengalir dari menara masjid, menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.
Langit senja menjadi saksi. Cahaya temaram berpadu dengan gema azan, menciptakan ruang hening yang hangat. Dalam suasana itu, waktu terasa melambat. hati menjadi lebih lapang dan tenang. Fikiran yang kusut perlahan menghilang.
Malam melabuh tirai
Malam turun perlahan, seperti selimut tipis yang menenangkan bumi. Bulan mengambang di langit—bulat pucat, tenang, seolah sedang berjaga. Cahayanya menurun lembut ke atap-atap rumah, ke jalanan yang mulai sepi, ke dedaunan yang diam. Cengkrik menyusun irama sederhana. Lampu-lampu kecil berkelip seperti bintang yang jatuh bertaburan.
Di bawah bulan itu, ada jiwa-jiwa yang sedang merenung, ada doa yang dipanjatkan dalam diam, ada rindu yang tak diucapkan. Waktu terasa melambat, memberi ruang bagi fikiran untuk pulang, bagi hati untuk beristirahat.
Bulan tetap mengambang, setia menemani, menjadi saksi sunyi bagi dunia yang sedang lelah.
Kemunculan pagi
Pagi datang perlahan seperti senyum pertama hari itu. Langit masih pucat, berubah iembut antara biru muda dan sisa gelap malam. Udara terasa segar, dingin lembut menyentuh kulit. Embun bergayut di hujung daun, berkilau kecil saat cahaya mulai menyelinap dari balik ufuk.
Burung-burung membuka hari dengan kicauan sederhana. Ayam berkokok di kejauhan. Jalanan masih lengang, hanya sesekali terdengar langkah kaki atau deru motor yang lalu perlahan.
Matahari belum sepenuhnya terbit, tetapi cahayanya sudah memberi harapan. Rumah-rumah mulai hidup. Ada rasa baru di pagi itu, seolah=olah dunia diberi kesempatan kedua, dan hati diajak untuk ikut memulainya.
Di antara azan, bulan, dan pagi,
kita hanyalah pejalan
yang sedang belajar pulang—
kepada sunyi,
kepada cahaya,
kepada Tuhan.
Related post;
JSHomestay more info















