Monday 8 November 2010

Kemuliaan dan Keutamaan 10 hari Pertama Bulan Zulhijjah

Hari ini 1 Zulhijjah 1431 Hijrah ...... bermulalah "Jualan Mega" yang Allah tawarkan kepada kita selama 10 hari. Marilah kita sama-sama merebut tawaran ini dengan mengutip sebanyak pahala yang mungkin dengan memperbanyakkan amal ibadah sepanjang 10 hari tertentu ini.

Pada sepuluh hari pertamanya terdapat banyak kemuliaan dan keutamaan serta dipenuhi barakah. Hari-hari tersebut disediakan oleh Allah sebagai musim ketaatan dan kesempatan beramal soleh yang bersifat tahunan. Maka hendaknya seorang muslim menantikan kehadirannya, memanfaatkannya dengan melaksanakan berbagai ibadah yang disyariatkan, menjaga perkataan dan amal yang soleh agar mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala dan membantunya dalam menghadapi kehidupan ini dengan jiwa yang tenang dan semangat yang berkobar.

Bukti kemuliaan ini, Allah Ta’ala bersumpah dengannya dalam Al-Qur’an al-Karim.

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Imam al-Thabari dalam menafsirkan “Wa layaalin ‘asr” (Dan malam yang sepuluh), “Dia adalah malam-malam sepuluh Zulhijjah berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli ta’wil (ahli tafsir).” (Jaami’ al Bayan fi Ta’wil al-Qur’an: 7/514)

Penafsiran ini dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini, “Dan malam-malam yang sepuluh, maksudnya: Sepuluh Zulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf dan khalaf.” (Ibnu Katsir: 4/535)

Kemuliaan sepuluh hari ini juga disebutkan dalam Surat Al-Hajj dengan perintah agar memperbanyak menyebut nama Allah pada hari-hari tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 27-28)

Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini menukil riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, “al-Ayyam al-Ma’lumat (hari-hari yang ditentukan) adalah hari-hari yang sepuluh.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/239)

Maka dapat disimpulkan bahawa keutamaan dan kemuliaan hari-hari yang sepuluh dari Zulhijjah telah datang secara jelas dalam Al-Qur’an al-Karim yang dinamakan dengan Ayyam Ma’lumat karena keutamaannya dan kedudukannya yang mulia.

Dari hadis pula, terdapat keterangan yang menunjukkan keutamaan dan kemuliaan sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijjah ini, di antaranya sabda Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Tidak ada satu amal soleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal soleh yang dilakukan pada hari-hari ini (iaitu 10 hari pertama bulan Zulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”                (HR. Abu Daud dan  Ibnu Majah).

Oleh kerana itu dianjurkan atas orang Islam pada hari-hari tersebut untuk bersungguh-sungguh dalam ibadahnya, di antaranya solat, membaca Al-Qur’an, zikrullah, memperbanyak doa, membantu orang-orang yang kesusahan, menyantuni orang miskin, memperbaharui janji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masih ada satu amalan lagi yang utama pada hari-hari tersebut, yaitu berpuasa sunnah di dalamnya.

Terdapat dalam Sunan Abu dawud dan lainnya, dari salah seorang isteri Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam, dia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ

“Adalah Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada tanggal 9 Zulhijjah.”

(HR. Abu Dawud no. 2437 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud no. 2081)

Syaikh Muhammad bin Salih al-Munajjid –Salah seorang ulama besar Saudi Arabia- berkata,

“Di antara musim ketaatan yang agung adalah sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijjah, yang telah Allah muliakan atas hari-hari lainnya selama setahun".

Hadis ini dan hadis-hadis lainnya menunjukkan bahawa sepuluh hari ini lebih utama dari seluruh hari dalam setahun kecuali, sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan. Syaikh Munajjid menambah, keutamaan sepuluh hari pertama ini diperkuat dengan beberapa bukti di bawah ini:

1. Allah Ta’ala telah bersumpah dengannya. Dan bersumpahnya Allah dengan sesuatu menjadi dalil keutamaannya dan besarnya manfaat. Allah Ta’ala berfirman,

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Ibnu Abbas, Ibnu al-Zubair, Mujahid, dan beberapa ulama salaf dan khalaf berkata: Bahawasanya dia itu adalah sepuluh hari pertama Zulhijjah.

Ibnu Katsir membenarkan pendapat ini (Tafsir Ibni Katsir: 8/413)

2. Sesungguhnya Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersaksi bahawa hari-hari tersebut adalah seutama-utamanya hari-hari dunia sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis sahih.

3. Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk memperbanyak amal salih di dalamnya. Sesungguhnya kemuliaan masa diperoleh oleh setiap penduduk negeri, sementara keutamaan tempat hanya dimiliki oleh jama’ah haji di Baitul Haram.

4. Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan untuk memperbanyak tasbih, tahmid, dan takbir pada sepuluh hari tersebut. Dari Ibnu Umar radiallahu ‘anhuma, dari Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal soleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Zulhijjah), kerananya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya.” (HR. Ahmad 7/224, Syaikh Ahmad Syakir mensahihkan isnadnya).

5. Di dalamnya terdapat hari Arafah. Hari ‘Arafah adalah hari yang disaksikan; yang di dalamnya Allah menyempurnakan ajaran din-Nya sementara puasanya akan menghapuskan dosa-dosa selama dua tahun.

Daripada Abi Qatadah al-Ansari bahawa Rasulullah S.A.W telah ditanya mengenai puasa hari Arafah? maka jawab Rasulullah S.A.W yang bermaksud :

Dikaffarah (ampun dosa) setahun lalu dan setahun akan datang.
(Hadis isnad sahih dari imam Muslim, Tarmizi)
6. Di dalamnya terdapat ibadah udhiyah (berkorban) dan haji.

Dalam sepuluh hari ini juga terdapat yaum nahar (hari penyembelihan) yang secara umum menjadi hari teragung dalam setahun. Hari tersebut adalah haji besar yang berkumpul berbagai ketaatan dan amal ibadah padanya yang tidak terkumpul pada hari-hari selainnya.

Sesungguhnya siapa yang mendapatkan sepuluh hari bulan Zulhijjah merupakan sebahagian dari nikmat Allah yang besar atas hambaNya. Hanya orang-orang soleh yang bersegera kepada kebaikanlah yang mampu menghormatinya dengan selayaknya. Dan kewajipan seorang muslim adalah merasakan nikmat ini, memanfaatkan kesempatan emas ini dengan memberikan perhatian yang lebih, dan menundukkan dirinya untuk menjalankan ketaatan. Sesungguhnya di antara kurnia Allah Ta’ala atas hamba-Nya adalah menyediakan banyak jalan berbuat baik dan meragamkan berbagai bentuk ketaatan agar semangat seorang muslim berterusan dan tetap istiqamah menjalankan ibadah kepada Tuhannya.

Shaikh Munajjid rahimahullaah menjelaskan, ada beberapa amal istimewa yang harus selayaknya dikerjakan oleh seorang muslim pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, di antaranya:

1. Berpuasa. Seorang muslim disunnahkan berpuasa pada tanggal 9 Zulhijjah kerana Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan untuk beramal salih pada sepuluh hari ini, dan puasa salah satu dari amal-amal shalih tersebut. Terlebih lagi, Allah Ta’ala telah memilih puasa untuk diri-Nya sebagaimana terdapat dalam hadis Qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Semua amal anak Adam untuk dirinya kecuali puasa, sungguh puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.

(HR. al-Bukhari no. 1805)

Dan sungguh Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam melaksanakan puasa 9 Zulhijjah. Dari Hunaidah bin Khalid, dari isterinya, dari salah seorang isteri Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

Adalah Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam melaksanakan puasa 9 Zulhijjah, hari ‘Asyura, dan tiga hari setiap bulan serta Isnin pertama dari setiap bulan dan dua hari Khamis.

(HR. Al-Nasai dan Abu Dawud. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Shahih Abi Dawud: 2/462)

2. Bertakbir. Disunnahkan membaca takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih selama sepuluh hari tersebut. Dan disunnahkan mengeraskannya di masjid-masjid, rumah-rumah, dan di jalan-jalan. Dan setiap tempat yang dibolehkan untuk zikrullah disunnahkan untuk menampakkan ibadah dan memperlihatkan pengagungan terhadap Allah Ta’ala. Kaum laki-laki mengeraskan  suaranya sementara kaum wanita melembutkannya.

Allah Ta’ala berfirman,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.”

(QS. Al-Hajj: 28)

Menurut Juhmur ulama, makna al-ayyam al-ma’lumat adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, sebagaimana yang diriwatkan dari Ibnu Abbas radiallaahu ‘anhuma, “Al-Ayyam al-Ma’lumat: Hari sepuluh.”

Salah satu bentuk kalimat takbirnya adalah:

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر ولله الحمد

Dan masih ada lagi bentuk takbir yang lain.

3. Melaksanakan haji dan umrah. Sesungguhnya di antara amalan yang paling utama untuk dikerjakan pada sepuluh hari ini adalah berhaji ke Baitullah al-Haram. Maka siapa yang diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakan haji ke Baitullah dan melaksanakan manasiknya sesuai dengan ketentuan syariat, maka dia mendapatkan janji –Insya Allah-  dari sabda Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam,

Haji yang mabrur ridak ada balasannya kecuali surga.
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

4. Melaksanakan amal-amal soleh secara umum. Sesungguhnya amal soleh dicintai oleh Allah Ta’ala. Dan ini pasti akan memperbesar pahala di sisi Allah Ta’ala. Maka barangsiapa yang tidak memungkinkan melaksanakan haji, maka hendaknya dia menghidupkan waktu-waktu yang mulia ini dengan ketaatan-ketaatan kepada Allah Ta’ala berupa solat, membaca Al-Qur’an, zikir, doa, sedekah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali persaudaraan, memerintahkan yang baik dan melarang yang munkar, dan berbagai amalan kebaikan lain.

5. Berkorban. Di antara amal soleh pada hari yang kesepuluhnya adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih haiwan korban yang gemuk dan baik, dan berinfaq di jalan Allah Ta’ala.

Ibadah Korban
6. Taubat Nasuha. Di antara yang sangat ditekankan juga pada sepuluh hari ini adalah bertaubat dengan benar-benar (taubatan nasuha), meninggalkan perbuatan maksiat dan melepaskan diri dari seluruh dosa.
Taubat adalah kembali kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan apa saja yang dibenci-Nya yang nampak maupun yang tersembunyi sebagai bentuk penyesalan atas perbuatan buruk yang telah lalu, meninggalkan seketika itu juga, bertekad untuk tidak mengulanginya, dan beristiqamah di atas kebenaran dengan melaksanakan apa-apa yang dicintai oleh Allah Ta’ala.

Semoga kita tergolong sebagai hamba-hamba Allah yang mampu berterusan dan istiqamah dalam beribadah kepadaNya. Memanfaatkan setiap kesempatan yang telah disediakan untuk menuai pahala. Sehingga kita datang kepada Allah dengan membawa bekal yang cukup dan memiliki modal yang memadai untuk memasuki surga-Nya yang Maha indah dan menyenangkan.

Coretan:

Dari koleksi emel Masjid Annahl Group


Saturday 23 October 2010

Jom Buat Korban


Hari ini 15 Zulkaedah 1431 Hijrah. Dalam masa tidak sampai sebulan lagi, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut I'dul Adha. Ramai di kalangan umat Islam di Malaysia yang masih tidak sedar akan kebesaran hari itu sama seperti Hari Raya Puasa. Maka hendaklah kita menyambutnya dengan kemeriahan (dalam lingkungan syaraksepertimana kita menyambut I'dul Fitri .

Ramai juga yang tidak  tahu bahawa amalan berkorban itu hukumnya  sunat muakkad (yang dituntut) bagi orang yang mempunyai lebihan dan kemudahan harta. Demikian pendapat majoriti ulama termasuklah sahabat besar seperti Abu Bakar as-Siddiq r.a, Umar al-Khattab r.a, Ibn Mas'ud r.a dan lain-lain, kecuali Imam Abu Hanifah berpendapat ianya WAJIB bagi mereka yang berkemampuan. Ini berdasarkan pada hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

Dari Abu Hurairah ra., nabi Muhammad saw bersabda, “Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri (mendekati) tempat solat kami”.
Rasulullah saw memerintahkan berkorban dengan bahasa yang tegas dan mudah, bahkan disertai ancaman untuk tidak dekat-dekat dengan tempat solat atau dengan istilah lain tidak diakui menjadi umat Muhammad.
Mengapa Islam sangat mengambil berat amalan berkorban ini?
Apakah hakikat korban sebenarnya?
Perintah untuk melaksanakan korban adalah sebagai bukti rasa syukur kita kepada Allah SWT, yang telah menganugerahkan begitu banyak nikmat kepada manusia sehingga tidak terhitung jumlahnya.
Firman Allah SWT,

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللَّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmatt Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmatt Allah). 
( Ibrahim:34)
Dan yang paling besar anugerah Allah swt adalah nikmat Iman dan Islam. Ini digambarkan Allah sendiri,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً فَمَنِ اضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(Al-Ma’idah:3)

Berkorban tidak sekadar mengalirkan darah binatang ternak, tidak hanya memotong haiwan korban, namun lebih dari itu. Berkorban bererti ketundukan menyeluruh terhadap perintah-perintah Allah SWT dan sikap menjauhi dari hal-hal yang dilarang-Nya.
Allah swt ingin menguji hamba-hamba-Nya dengan suatu perintah; apakah dia bersangka baik kepada-Nya dan  melaksanakan tuntutan itu dengan ikhlas tanpa ragu-ragu sepertimana  Nabiyullah Ibrahim AS.
Berkorban juga bererti wujud ketaatan dan peribadatan seseorang, dan dengan itu seluruh isi kehidupannya  boleh menjadi manifestasi sikap berkorban.

Friday 15 October 2010

The King and I

Al-kisah.....pada suatu hari hamba telah dijemput ke Istana untuk menyaksikan penganugerahan pingat-pingat kebesaran oleh Raja dari salah sebuah negeri di Malaysia. Maka pada hari itu hamba melihat betapa ramainya manusia (lelaki dan perempuan) yang begitu senang dan gembira sekali mencium tangan Raja ketika bersalam. Entah kenapa jauh disudut hati kecil hamba ini terasa sangat tidak tenteram dengan apa yang dilihat. Nasib baiklah BFF hamba tidak melakukannya! ..........kalau tidak, bertambahlah kegusaran hamba. Adakah kerana  hamba cemburu? Oh! Tidak sama sekaliii.......

Al-kisah ........ pada suatu ketika yang lain pula hamba melihat seorang pakcik tua mencium tangan Hamid Othman (bekas menteri) ketika bersalam dengannya. Aduhhh ....sakitnyaaa.....

Hamba bukanlah anti Raja...tidak sama sekali...

Hamba ingin mempunyai raja yang berjiwa rakyat dan melihat diri mereka sebagai manusia yang sama taraf dengan rakyat jelata.

Cium tangan: adat bukan hukum
Jikalau mencium tangan itu sebagai adat yang menunjukkan tanda hormat, ia bukanlah cara yang terbaik. Adat yang kurang baik boleh saja kita tukar kerana ia bukanlah suatu hukum.


*Dipetik daripada UTUSAN MALAYSIA ONLINE-12 SEPTEMBER 2005
Cium tangan bertentangan hukum Islam - Raja Abdullah

RIYADH 11 Sept. - Pemerintah Arab Saudi yang baru, Raja Abdullah mengeluarkan arahan supaya rakyatnya tidak mencium tangan baginda apabila bersalam.

Baginda menjelaskan, perbuatan mencium tangan merupakan satu amalan yang bertentangan dengan hukum Islam dan merendahkan martabat seseorang.

``Mencium tangan seseorang adalah satu perbuatan asing dalam nilai-nilai moral kita dan ia tidak boleh diterima.

 ``Dengan mencium, ia juga bererti anda tunduk kepada individu berkenaan yakni telah melanggar peraturan yang ditetapkan oleh Allah. Manusia tidak tunduk kepada sesiapa melainkan Tuhan,'' titahnya.

Baginda bertitah demikian kepada sekumpulan delegasi dari Al-Baha yang mengunjunginya di Istana Diraja bagi mengucapkan tahniah di atas pelantikannya sebagai Raja Arab Saudi yang baru.

Abdullah menjadi raja negara itu pada 1 Ogos lalu ekoran kemangkatan Raja Fahd.

Sehubungan itu, Abdullah yang terkenal dengan sifat beliau menekankan kesopanan keluarga menegaskan, hanya bapa atau ibu sahaja yang layak menerima ciuman tersebut.

 ``Saya mengumumkan penolakan menyeluruh dalam hal ini dan saya meminta setiap orang supaya elak daripada mencium tangan sesiapa pun melainkan ibu bapa mereka,'' titah baginda. - Reuters

Wednesday 25 August 2010

Berpuasa tetapi tidak Solat - Apa hukumnya?

Hari ini adalah hari ke-14 Ramadhan. Selama 14 hari berpuasa saya belum pernah lagi menyinggah dan berbelanja di bazar Ramadhan berhampiran. Bukan tidak mahu tetapi tidak berkesempatan  dan berkeperluan.

Minggu lepas ada berita pasal berlakunya ribut di sebuah bazar Ramadhan di Jasin Melaka, di mana 3 orang telah maut. Ada pihak yang mengatakkan bahawa peniaga-peniaga di situ tidak solat Jumaat (ia berlaku pada petang Jumaat) dan Maghrib ....... seolah-olah kejadian itu sebagai satu balasan dan peringatan Allah terhadap mereka.



Lihatlah betapa kuatnya ribut yang dihantar oleh Allah SWT sehingga khemah-khemah itu berterbangan seperti kertas yang ditiup angin.

Selepas kejadian itu saya ada bersembang-sembang dengan anak lelaki saya  yang kebetulan belajar di Melaka. Saya bertanya  jika ada di kalangan kawan-kawannya yang tidak berpuasa. Dia kata, "Tak ada ........ tetapi yang tak sembahyang adalah...". Maknanya mereka berpuasa tetapi tidak solat......Apakah hukumnya puasa mereka ini? Ikutilah artikel ini seterusnya.

Ada  sebahagian umat Islam yang mahu menjalankan ibadah puasa tetapi tidak mahu melakukan solat. Ibadah puasa dijalani dengan penuh, tetapi solat lima waktu ditinggalkan. Ini satu kekeliruan, sebab sikap Islam sendiri adalah  tunduk dan patuh kepada Allah secara mutlak. Islam sebagai sebuah din adalah satu kesatuan yang tidak boleh diperkotak-katikan, disiat-siat dan dipilih-pilih sesuai dengan keinginannya. Firman Allah,

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَـبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْىٌ فِي الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَـمَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الّعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَـفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Maksudnya:

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (al-Baqarah:85).

Perlu diketahui bahawa solat adalah tiang agama. Orang yang meninggalkan solat bererti dia merobohkan agama. Jika agama telah roboh, maka puasanya pun menjadi sia-sia dan tidak ada pahalanya sedikit pun.

Berbalik kepada perbincangan  di atas, ada sebahagian umat Islam yang rajin melakukan ibadah, termasuk juga solat tetapi hanya di bulan Ramadhan saja. Sepanjang bulan Ramadhan rajin mengaji, rajin ke masjid, solat berjema’ah, banyak bersedekah, tetapi sebaik habis Ramadhan, kehidupannya berubah 180 darjah.... penuh dengan maksiat.

Fenomina ini dapat kita lihat dalam program-program khas sempena Ramadhan yang ditayangkan di kaca TV....... seolah-seolah penonton hanya perlu dididik atau diberi ilmu ketika di bulan Ramadhan sahaja. Rancangan berbentuk hiburan dihentikan sementara.

Persoalannya ..... adakah Allah mengharamkan kemaksiatan hanya di bulan Ramadhan, sementara pada sebelas bulan lainnya kemaksiatan itu halal? Adakah Allah mewajibkan ibadah hanya di bulan Ramadhan, setelah itu kewajipan dicabut lagi dan hanya diturunkan di tahun  depan?

Islam mengajar manusia cara hidup yang berpandukan al-Quran dan sunnah, sedangkan  kehidupan manusia sepanjang masa, bukan hanya di bulan Ramadhan. Maka orang yang masih memiliki kebiasaan seperti ini hendaklah bertaubat...... menyesal dan berhenti dari kebiasaan buruk ini. Mulakan dengan Ramadhan tahun ini. Seterusnya, senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Dalam beribadah ini hendaklah memegang firman Allah,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Maksudnya:

" Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

(al-Hijr:99)

Dan juga sabda Rasulullah;

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِىِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ .

Maksudnya:
Dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata; Aku bertanya, ”Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku sesuatu di dalam Islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seorangpun selain engkau” beliau bersabda, ”Katakanlah, aku beriman kepada Allah lalu istiqamahlah” (HR Muslim)

Istiqamah dalam iman membawa kepada istiqamah di dalam beribadah. Ini adalah kerana hakikat iman mencakupi amal, iaitu dengan melakukan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.



Wednesday 11 August 2010

Keindahan bersama Ramadhan 1431 H

Alhamdulillah umat Islam di seluruh negara  menyambut Ramadhan bulan yang penuh barakah pada hari ini.

Ahlan wasahlan ya Ramadhan!


Doa ketika masuk bulan Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan




Marilah kita sama-sama menjalani ibadah puasa pada tahun ini dengan lebih bermakna daripada tahun-tahun sebelumnya. Bersyukurlah kepada Allah  kita masih diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan.

Masih belum terlambat rasanya untuk saya berkongsi artikel Ramadhan seperti di bawah,  sebagai panduan kita menghidupkan amalan dan kejiwaan dalam bulan Ramadhan yang penuh keberkatan

Keindahan bersama Ramadhan ( pdf )

Keindahan bersama Ramadhan ( word )

Keindahan bersama ramadhan ( scribd )